Buku Dialog Islam dan Budaya Lokal hadir pada saat ketika hubungan antara agama dan budaya sering disalahpahami. Sebagian orang menganggap budaya lokal sebagai penghalang bagi kemurnian ajaran Islam, sementara sebagian lain memandang agama sebagai ancaman bagi kekayaan tradisi. Di tengah perdebatan itu, karya ini menawarkan jalan tengah yang meneduhkan yakni melihat keduanya sebagai dua kekuatan yang bisa saling memperkaya, bukan meniadakan.
Penerbit meyakini bahwa Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, memiliki kelenturan dan keluasan yang mampu berdialog dengan berbagai bentuk ekspresi budaya. Sejarah Nusantara menjadi bukti nyata bahwa dakwah Islam tumbuh dengan penuh kearifan lokal: dari tradisi wayang dan gamelan yang disucikan maknanya, hingga adat pernikahan dan upacara panen yang diberi ruh tauhid. Dalam setiap bentuk itu, ada proses penyucian, bukan pemusnahan.
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia