Pluto, dalam kisah ini, bukan hanya simbol dari keterasingan, tetapi juga tentang keteguhan eksistensi. Ia terus mengelilingi matahari, meski tak lagi disebut planet. Begitu pula manusia: ada kalanya dunia tidak menganggap keberadaan kita penting, tapi selama kita tetap berputar pada poros nilai, cinta, dan makna, kita tetap menjadi bagian dari semesta besar yang indah.
Kami menerbitkan karya ini sebagai bentuk penghargaan terhadap kesunyian yang berani. Dalam setiap halaman, ada gema perasaan yang sering tak terucap: rasa kehilangan, keterlambatan, dan penerimaan. Planet Pluto dan Duka yang Tidak Dianggap bukan buku yang meminta simpati, melainkan menawarkan ruang tenang bagi pembaca untuk menafsir ulang arti “dianggap” dan “tidak dianggap”.
136 halaman
14×20,5 cm
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia