Di kota Akrial, tangisan bukan sekadar dianggap lemah—ia adalah kejahatan.
Air mata dicatat sebagai gangguan, perasaan diawasi seperti kriminal, dan setiap warga diwajibkan untuk tersenyum meski dunia di dalam dada mereka retak tanpa suara.
Hingga suatu hari, seorang anak kecil berdiri di tengah lapangan sekolah… dan menangis.
Satu tangisan itu—yang seharusnya kecil, rapuh, dan mudah dipadamkan—justru menjadi retakan pertama pada dinding panjang yang membungkus seluruh kota.
Hujan pun turun.
Bukan hujan biasa, tetapi hujan yang membawa kembali bahasa yang lama dihapus: kesedihan, empati, keberanian untuk merasakan.
“Dystopia: Kota yang Melarang Tangisan” adalah kisah tentang pemberontakan paling sunyi, tentang dunia yang menakutkan karena terlalu tenang, dan tentang bagaimana air mata—sesuatu yang dianggap remeh—bisa mengguncang kekuasaan yang dibangun dari ketakutan.
Ini bukan cerita tentang pahlawan.
Ini adalah cerita tentang manusia yang akhirnya berani menjadi manusia lagi.
jlm halaman: 166
ukuran: 14×20,5 cm
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia