Di kamar kos berukuran tiga kali empat meter, seorang anak muda belajar menjadi dewasa dengan cara yang paling sunyi. Ia dihantui oleh cita-cita yang terasa terlalu jauh, oleh tagihan listrik yang selalu datang terlalu cepat, dan oleh mi instan jam dua pagi yang menjadi teman paling setia ketika hidup terasa tidak masuk akal.
Melalui hari-hari yang penuh ketidakpastian, ia menemukan bahwa masa depan sering kali tidak tampak seperti cahaya terang—lebih mirip bayangan samar di cermin buram. Tetapi justru di sanalah hidup mengajarinya bertahan: pelan, jujur, dan apa adanya.
Buku ini adalah potret kehidupan anak kos yang jarang dibicarakan: rasa takut yang disembunyikan di balik tawa, rindu yang tidak pernah dikatakan pada ibu, percakapan-percakapan kecil tentang mimpi yang terlalu mahal, dan keberanian sederhana untuk tetap bangun setiap pagi meski dunia terasa berat.
Anak Kos dan Bayangan Masa Depan adalah pelukan lembut bagi siapa pun yang pernah merasa tersesat di kota asing, bagi yang sedang berjuang supaya hidup tidak runtuh, dan bagi mereka yang belajar mencintai diri sendiri versi yang paling rapuh. Ini bukan kisah kemenangan besar, tetapi kisah manusia yang memilih untuk tidak menyerah—dan itu sudah lebih dari cukup.
jml halaman: 142
ukuran: 13×19 cm
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia