Pilkada langsung pernah dielu-elukan sebagai tonggak baru demokrasi pasca-reformasi. Ia memberi rakyat hak untuk menentukan pemimpinnya sendiri—sebuah terobosan historis dari sistem pemilihan oleh DPRD yang kerap dituding elitis dan sarat transaksi gelap. Namun, setelah dua dekade berjalan, apakah Pilkada langsung benar-benar membawa kedaulatan ke tangan rakyat? Atau justru membuka ruang baru bagi politik uang, dinasti, konflik sosial, dan manipulasi citra?
Buku ini hadir sebagai autopsi jujur atas praktik demokrasi lokal di Indonesia. Ia membedah dari hulu ke hilir: dari kerangka hukum dan beban fiskal, hingga perilaku elite dan partisipasi rakyat. Dilengkapi studi kasus, data empirik, serta refleksi kritis, buku ini mengajak pembaca berpikir ulang tentang masa depan demokrasi lokal. Apakah kita butuh reformasi sistem? Desain hibrida? Atau cukup dengan memperkuat nilai, etika, dan integritas di balik prosedur? Inilah bacaan wajib bagi politisi, akademisi, pemantau pemilu, jurnalis, dan seluruh warga yang percaya: suara rakyat seharusnya bukan komoditas, tetapi kekuasaan yang sah.
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia