Reformasi 1998 menandai titik balik sejarah bangsa Indonesia. Ia lahir dari perlawanan terhadap tiga musuh utama yang dianggap merusak sendi kehidupan bernegara: kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Namun setelah lebih dari dua dekade, pertanyaan mendasar kembali muncul: apakah semangat reformasi itu benar-benar ber-buah? Ataukah KKN hanya bertransformasi, berganti wajah tanpa kehilangan ruhnya?
Sebagai penulis yang tumbuh di era pasca-Refor-masi, saya kerap melihat paradoks yang menggelitik. Di satu sisi, kita memiliki lembaga antikorupsi yang diakui dunia, transparansi anggaran yang lebih terbuka, dan wacana pub-lik yang semakin kritis. Tapi di sisi lain, politik uang tetap subur, proyek publik masih menjadi ajang “bagi-bagi kue”, dan jabatan sering diwariskan dalam lingkaran keluarga atau jaringan partai. Seolah-olah kita hanya memindahkan panggung KKN dari istana ke ruang rapat modern.
131 halaman
13×19 cm
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia