Menjadi Muslim di negeri minoritas berarti berjalan di antara dua tebing: menjaga keyakinan di satu sisi, dan bernegosiasi dengan realitas sosial di sisi lain. Dalam perjalanan sejarah modern, Islamophobia muncul bukan sekadar sebagai prasangka individu, tetapi telah berakar sebagai sistem sosial dan politik. Ia tumbuh dari trauma kolektif, ketidaktahuan, dan juga narasi media yang seringkali menampilkan wajah Islam secara parsial dan menakutkan.
Saya menulis buku ini bukan untuk mengeluh atau menuntut simpati, melainkan untuk menghadirkan ruang pemahaman baru tentang apa artinya menjadi Muslim di tengah dunia yang semakin terfragmentasi. Dalam setiap bab, pembaca akan diajak melihat Is-lamophobia dari beragam sudut: dari perspektif sejarah kolonial, geopolitik, hingga pengalaman sehari-hari Muslim minoritas di Barat, Asia, dan Afrika.
140 halaman
14×20,5 cm
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia