Catatan eksistensialis tentang hidup yang sebentar, dan cara kita menciptakan makna dari detik-detik yang lekas berlalu.
Hidup sering terasa seperti rangkaian detik yang berlalu terlalu cepat, membuat seseorang sulit mengejar dirinya sendiri. Dalam dunia yang terus bergerak tanpa memberi ruang untuk berhenti, manusia kerap kehilangan bagian penting dari dirinya—keberanian untuk hadir apa adanya. Eksistensi Diri dalam Waktu yang Terbatas lahir dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang diam-diam tumbuh di tengah hiruk pikuk itu: Siapa diriku ketika suara-suara luar berhenti? Ke mana aku pulang ketika dunia terlalu bising? Bagaimana aku menemukan makna dari hidup yang sebentar ini?
Eksistensi Diri dalam Waktu yang Terbatas bukan buku yang memberi jawaban, melainkan buku yang menemani. Ia hadir sebagai sahabat sunyi—tempat bersandar ketika dunia terlalu ramai, tempat pulang ketika hati terlalu lelah, dan tempat menemukan kembali diri yang pernah hilang di tengah detik-detik yang tidak pernah kembali. Buku ini adalah pelukan lembut bagi siapa pun yang sedang belajar hadir dalam hidupnya sendiri.
jml halaman: 224
ukuran: 14×20,5 cm
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia