Dalam sejarah bangsa kita, kesenian rakyat selalu hadir sebagai denyut kehidaupan masyarakat. Ia hidup di tengah pasar, di sela-sela hajat desa, dalam ritus panen, bahkan di jalanan kota. Namun, lebih dari sekadar tontonan, kesenian rakyat menyimpan lapisan makna yang dalam—ia adalah cara rakyat berbicara ketika lidah mereka dibungkam, cara mereka tertawa sambil menangis, dan cara mereka menyimpan ingatan serta pesan kolektif.
Buku Kesenian Rakyat dan Politik Simbolik ini lahir dari kesadaran akan pentingnya membaca seni rakyat bukan hanya sebagai warisan budaya, melainkan se-bagai teks sosial-politik. Dalam wayang, kita menemukan sindiran terhadap ketimpangan dan kekuasaan. Dalam ludruk, ada kritik tajam yang dibungkus dalam humor. Dalam tari topeng, tersim-pan metafora identitas, pelarian, sekaligus keber-anian. Kesenian-kesenian ini menjadi alat komunikasi horizontal—antara rakyat dan rakyat, sekaligus komunikasi vertikal yang, meski tersamar, sering me-nyentil penguasa.
ukuran: 13×19 cm
jumlah halaman: 136 halaman
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia