Sastra dan perlawanan selalu memiliki hubungan yang rumit sekaligus intim. Di satu sisi, sastra sering dianggap sebagai wilayah imajinasi, ruang pribadi tempat seseorang bersembunyi dari kekacauan dunia. Namun di sisi lain, sejarah membuktikan bahwa justru dalam ruang yang tampak sunyi itulah suara paling keras sering lahir. Kata-kata yang ditulis diam-diam di kamar sempit, di bawah tekanan rezim, atau di tengah ketakutan, sering kali menjadi cermin keberanian manusia menghadapi tirani.
168 halaman
13×19 cm
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia