Papua dan Aceh bukan sekadar dua wilayah di ujung Indonesia; keduanya adalah cermin paling jernih tentang bagaimana negara bernegosiasi dengan sejarah, identitas, dan keadilan. Buku ini menelusuri perjalanan politik lokal di dua daerah otonomi khusus itu — dari konflik bersenjata hingga transformasi demokrasi, dari luka lama hingga pencarian makna baru tentang integrasi dan kemanusiaan. Di dalamnya, pembaca akan menemukan potret kekuasaan yang rumit, kebijakan yang penuh paradoks, tetapi juga keteguhan masyarakat untuk bangkit dan berdamai.
Melalui pendekatan akademik-naratif yang hangat dan mendalam, penulis mengajak kita memahami bahwa politik bukan semata urusan kekuasaan, melainkan ruang di mana manusia belajar mengelola luka dan harapan. Aceh menunjukkan bahwa perdamaian bisa lahir ketika negara mau mendengar, sedangkan Papua mengingatkan bahwa pembangunan tanpa penghormatan hanya memperpanjang alienasi.
250 halaman
13×19 cm
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia