Di Utopian City, tidak ada air mata. Pemerintah telah menciptakan sistem emosi sempurna—tidak ada duka, tidak ada marah, tidak ada kehilangan. Semua warganya tersenyum, semua masalah terselesaikan dengan algoritma kebahagiaan. Namun di balik keheningan yang terlalu damai, seseorang mulai merindukan kesedihan. Ia merasa hidupnya datar, seolah seluruh makna telah disterilkan dari perasaan manusiawi yang paling purba: menangis.
Fiksi ini menelusuri paradoks dunia tanpa air mata, di mana kemajuan teknologi justru menyingkirkan makna kehidupan itu sendiri. Utopian City: Kota Tanpa Air Mata adalah alegori tentang perasaan yang hilang, kebahagiaan yang dipaksakan, dan manusia yang perlahan lupa bagaimana rasanya menjadi manusia.
Ukuran: 14×20,5 cm
Jumlah halaman: 154 halaman
Kunjungi toko kami untuk melihat apa yang tersedia